Perbudakan Tenaga Kerja Indonesia Di Kapal China


ABK Indonesia di kapal China: Indonesia minta Beijing selidiki dan ... 

Perbudakan Tenaga Kerja Indonesia Di Kapal China Tanggal 6 Mei berita ABK Indonesia yang bekerja di sebuah kapal China diangkat oleh MBC di TV Korea. ABK ini diberitakan bekerja selama 18 jam dan hanya 6 jam istirahat dalam sehari itupun termasuk waktu makan. Kapal yang bernama Kapal Long Xing ini harusnya hanya menangkap tuna, namun mereka juga menangkap hiu yang mana merupakan tindakan illegal.
Kejadiannya bermula ketika pada tanggal 30 Maret. Jadi para ABK ini singgah ke Busan, Korea. Jadi pada saat ada kesempatan, pekerja Indonesia ini meminta pertolongan masyarakat Internasional. Mereka menunjukkan video bukti rekaman dari rekannya yang meninggal karena sakit, lalu mayatnya dibuang ke laut oleh kapal tersebut.
Pertama namanya Ari (24 tahun), meninggal Februari 2020, yang sudah bekerja lebih dari 1 tahun. Kemudian ada Sefri (24 tahun), dari Palembang, meninggal karena sakit. Juga Al Fattah (usia tidak diketahui), dari Enrekang, Sulawesi Selatan yang meninggal pada September 2019, juga karena sakit.
Nara sumber MBC mengatakan bahwa lingkungan kerja para ABK Indoneisa ini sama seperti lingkungan kerja perbudakan, kakinya diikat, pasportnya disita dan diharuskan meyerahkan deposit yang jumlahnya besar jadi mereka tidak bisa kabur. Setelah bekerja 13 bulan, mereka dibayar hanya 140.000 Won, yang mana jika di rupiahkan hanya 1.7 juta. Artinya perbulan cuma dapat 130 ribuan.
Tidak hanya itu, para ABK juga dikabarkan hanya diberikan air laut yg di filtrasi untuk minum. Kapal itu sebenarnya punya air putih, tapi air putih dikonsumsi hanya untuk pekerja China.
Jadi ketika mereka singgah di Busan, seorang dari mereka mengeluh sakit di dada dan sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat namun meninggal. Dari hasil pemeriksaan forensik, diketahui korban meninggal karena pneumonia atau radang paru-paru dan juga ditemukan faktor kekerasan. Namun, bisa dipastikan bahwa bukan itu faktor utama penyebab kematian ABK itu.
Dalam kontrak kerja disebutkan, ketika mereka menerima bekerja sebagai ABK segala resiko akan  ditanggung, termasuk jika meninggal, jenazah mereka dijanjikan akan dikremasi di tempat kapal menyandar dan dipulangkan ke Indonesia. Juga ahli waris akan menerima dana santunan sebesar 10.000 USD atau sama dengan 150 juta Rupiah.
Ada kesaksian dari salah satu ABK, ia menyebutkan tempat kerjanya cukup buruk dan rawan eksploitasi. Salah satu temannya yangg meninggal, sakit selama 1 bulan mengeluhkan keram badan, lalu terjatuh, kemudian badannya muncul bengkak satu persatu, ditambah lagi dengan meminum air laut yang membuat pusing dan berasa dahak di tenggorokan.
Semua kesaksian itu diberikan selama mereka berada di Busan, Korea selama 10 hari setelah pindah kapal. Ada satu lembaga yg lapor ke polisi laut soal hal ini.
Tahun 2015, Korea pernah meratifikasi protokler internasional untuk mencegah perdagangan manusia termasuk kerja paksa dan eksploitasi intenasional. Mereka telah merevisi KUHP itu & seharusnya kasus itu harus diselesaikan di wilayah Korea karena yurisdiksi internasional berlaku.
Jadi sejauh yang diketahui, seharusnya mayat-mayat itu yang mana sesuai perjanjian dalam kontrak tidak boleh dibuang ke laut meskipun pihak lain membolehkan sesuai kontrak kerjanya masing-masing, namun karena perjanjian yang disepakati adalah mayat seharusnya dikremasi dan abunya dikirim ke Indonesia.
Tapi, setelah 2 hari pihak Korea memutuskan unttuk menyelidiki, kapal tersebut kabur. Katanya beberapa ABK ada yang masih ada di Korea itu dan menuntut pihak internasional dan Indonesia untuk mengusut kasus ini sejauh mungkin. Masyarakat Korea juga banyak yang mengecam kasus ini dan sempat menjadi trending.
Selain itu pemulangan ABK yang masih harus ditunda karena virus corona dan diharuskan dikarantina. Semoga kasus ini cepat selesai dan para ABK yang menjadi korban mendapatkan keadilan.

Tidak ada komentar