Ramadhan Di Berbagai Dunia Di Tengah Pandemi



Ramadhan telah tiba, bulan yang penuh berkah ini disambut suka cita oleh umat muslim di seluruh dunia. Bulan dimana mereka biasa melakukan ibadah secara bersama-sama seperti tarawih, berbuka puasa bersama, ataupun menghabiskan malam untuk beribadah di masjid. Namun, tak seperti tahun-tahun yang lalu ramadhan tahun ini akan dilewati umat muslim dengan berat di seluruh dunia, bagaimana tidak ditengah pandemi virus corona ini orang-orang dihimbau untuk saling menjaga jarak dan berdiam diri di rumah.
Mari kita simak beberapa cara negara menjalani ramadhan selama lockdown di berlakukan:
Australia
Ramadan di tengah pandemi virus corona turut dirasakan mahasiswa tahun ke-4 yang berada di Sydney, Australia. Elvina Rahmatika, mengatakan tahun ini ramadhan jauh lebih sunyi dari tahun-tahun sebelumnya, tentu saja di negara minoritas muslim pertanda waktu berbuka atau adzan panggilan sholat tidak ada sehingga umat muslim Australia harus memasang aplikasi untuk mengetahui waktu sholat di smartphone mereka.
Apalagi dengan diterapkannya lockdown selama 6 bulan, yang artinya para pendatang tidak diperbolehkan keluar masuk negara seperti biasa, namun untuk warga asli sana diperbolehkan  hanya untuk kembali ke negaranya.
Hal ini tentu saja mengakibatkan Elvina tidak dapat kemali ke Indonesia untuk menjalani ibadah puasa bersama kelurga dan kemungkinan besar pula tidak bisa ikut merayakan lebaran di kampong halaman.
Ramadhan sebelumnya, para mahasiswa Indonesia berinisiatif untuk mengadakan buka bersama atau sekedar berkumpul berbagi kisah sebagai anak rantauan, namun di tengah pandemi ini hal tersebut tidak dapat dilakukan lagi.


Pakistan
Di hari pertama puasa, yakni pada Sabtu, 25 April 2020 para warga masih menjalani kegiatan ramadhan seperti biasa mengacuhkan saran untuk membatasi diri karena pengaruh sebaran virus corona ini terus bertambah. Mereka tetap saja pergi ke pasar dan masjid.
“Pakistan tidak mampu memberlakukan lockdown ataupun social distancing seperti negara lain” ujar Imran Khan Perdana Menteri selaku Perdana Menteri. Pemerintah nampak menyerah menangani beberapa kelompok agama yang tetap melakukan shalat dan tarawih di masjid, walaupun tetap mengikuti beberapa langkah perlindungan diri.
Militer Pakistan memperingatkan "15 hari ke depan adalah penting" dan mendesak orang-orang untuk beribadah di rumah selama pandemi ini. Tentu saja, sebagian besar warga mengabaikan saran itu.
Di Islamabad, jamaah di masjid-masjid terlihat lebih sedikit dari biasanya di awal Ramadan, namun di beberapa tempat lain pembatasan sosial dan larangan jamaah untuk berusia tua masih tetap saja diabaikan.
"Ini bertentangan dengan pedoman dan arahan pemerintah," kecam Zafar Mirza, penasihat khusus perdana menteri untuk kesehatan kepada orang-orang yang tetap ke pasar dan memohon agar orang-orang tetap di rumah yang disampaikannya pada wartawan.

Amerika Serikat.
“Ramadhan tahun ini di Amerika Serikat tentu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya akibat pandemi Covid-19 ini.” Ujar Emil Ranakusuma, warga negara Indonesia yang kini berada di Virginia.
Imam masjid di Virginia dan jamaah sepakat untuk meniadakan tarawih guna mencegah penyebaran virus corona. Imam Jamal Kakar telah melayani selama 20 tahun untuk kebutuhan komunitas Muslim Virginia Utara, ia merasa khawatir sebab masjid-masjid di sana terancam ditutup karena berkurangnya sumbangan dari jamaah selama diterapkannya lockdown.
Jamal Karar menyatakan karena banyak jamaah berusia lanjut dan tidak membawa kartu kredit ke masjid, sehingga tidak mungkin mereka akan dapat berkontribusi dan menyumbangkan uang secara online.

Inggris
Di tahun-tahun terdahulu biasanya Masjid Finsbury Park, London utara dihadiri sekitar 2.000 orang setiap hari untuk melakukan ibadah secara berjemaah. Tak keteinggalan pula relawan yang berdesakan di dapur masjid untuk menyiapkan buka puasasetiap harinya. Namun sepertinya hal tersebut tidak akan dijumpai pada tahun ini karena diterapkannya lockdown sejak 23 Maret yang lalu.
Mohammed Kozbar, sekretaris umum masjid menyampaikan telah mengunjungi masjid dan mendapati pemadangan sunyi dan kosong, sangat memilukan tambahnya. Gerbang masjid terkunci dengan hanya penjaga keamanan yang berpatroli di ruang ibadah dan ruang komunitas.
Dewan Muslim Inggris (MCB) telah menghimbau pemberhentian semua kegiatan di masjid dan pusat kegiatan Islam, tepat seminggu sebelum pemerintah mengumumkan semua tempat ibadah harus ditutup karena lockdown.
"Sangat tidak tepat untuk mengadakan pertemuan keagamaan dan melakukan sholat tarawih berjamaah selama bulan Ramadhan di masjid maupun di rumah dengan orang-orang yang bukan anggota keluarga," kata seorang imam Leeds dan Ketua Dewan Penasihat Nasional Masjid, Qari Asim. Selama pandemi menyelamatkan nyawa seseorang harus didahulukan dibanding keinginan untuk melakukan sholat berjamaah. Bagi umat Islam, tidak dapat ikut shalat berjemaah dan berbuka puasa bersama keluarga dan kerabat selama Ramadhan adalah “tantangan emosional, frustrasi, dan terasa asing” Qari menambahkan.
Tidak harus bersedih karena tahun ini ramadhan harus dilewati hanya di rumah masing-masing, umat Islam disana menggunakan teknologi untuk menyiasati beribadah secara berjamaah di saat lockdown seperti pembacaan Al-Qur'an malam hari dan ibadah lainnya akan diadakan secara online. Juga untuk penggalangan dana zakat akan dilakukan lewat platform digital.




Mesir
Mesir telah meniadakan semua aktivitas Ramadan yang biasa dilakukan dengan berkelompok dan berjamaah seperti tarawih, tadarus, buka puasa bersama, dan kegiatan sosial lainnya untuk mencegah penyebaran virus corona seperti yang dinyatakan Kementerian Wakaf. Sebelumnya Kementerian telah memutuskan melarang buka puasa bersama selama Ramadhan baik di masjid atau area sekitarnya.
Sejumlah negara Muslim termasuk Mesir, telah mengeluarkan perintah peniadaan sholat berjamaah di masjid-masjid sampai pemberitahuan lebih lanjut guna memperlambat penyebaran virus corona.

Arab Saudi
Salman bin Abdulaziz, Raja Arab Saudi menyampaikan ucapan selamat kepada umat Islam di seluruh dunia atas kedatangan bulan suci Ramadhan. Ia bersyukur kepada Allah karena masih memberikan kesempatan kepadanya dan umat Islam yang masih hidup untuk menjalani Ramadhan tahun ini.
Namun, menurutnya, saat ini umat Islam di seluruh dunia tengah memasuki bulan suci Ramadhan dengan keadaan yang tidak biasa karena pandemi virus corona. Seluruh kegiatan dan aktivitas manusia termasuk yang bersifat keagamaan dibatasi akibat virus corona.
Umat Islam tidak bisa lagi menjalankan shalat berjamaah dan shalat Tarawih di masjid selama Ramadhan karena pandemi corona. Atas hal itu, Raja Salman mengaku bersedih. "Sejujurnya, sangat menyakitkan bagiku menyambut Ramadhan dalam keadaan yang membuat kami tidak dapat melakukan shalat berjamaah dan shalat Tarawih di masjid. Semua ini disebabkan tindakan pencegahan untuk melindungi kehidupan dan kesehatan masyarakat dalam memerangi pandemi virus corona," kata Raja Salman.
Raja Salman kemudian berterimakasih kepada personel keamanan di wilayah perbatasan Kerajaan, praktisi kesehatan, dan semua pihak yang telah melakukan pencegahan-pencegahan untuk membendung penyebaran virus corona. Dia menegaskan, untuk menghadapi pandemi ini maka siapapun harus mematuhi instruksi dan pedoman yang dikeluarkan pemerintah. Otoritas Saudi melonggarkan pembatasan-pembatasan selama bulan Ramadhan. Warga diizinkan keluar rumah untuk memenuhi kebutuhannya dari pukul 9 pagi hingga 5 sore.
Pada bulan Ramadhan umat Islam biasanya berkumpul dalam jumlah besar di masjid-masjid pada malam hari untuk menunaikan shalat Tarawih. Namun karena pandemi corona, hampir semua negara berpenduduk mayoritas Muslim menutup masjid dan meminta warganya untuk shalat di rumah.

Tidak ada komentar